Rabu, 21 Mei 2014

Shobii


Aku tak tahan dengan suhu tubuhku yang semakin memanas, Tipus ini sangat meyiksaku, kala dingin seolah aku sedang diliputi salju tebal disekelilingku, kala panas seolah aku tengah tidur diatas penanangan nasi. Beberapa menit kemudian, Ku dengar ibu berujar sendiri sambil memegang tanganku yang tengah kepanasan,"Iki kok puanas tangan e", aku pura-pura tidur, seolah tak mendengar apa yang diucap ibu. "Ya Robb..Betapa tersiksa ketika aku harus bersandiwara di depan orang tuaku ketika sakit seperti ini" Keluhku dalam hati. Betapa aku harus melakukan ini agar kalian tak cemas melihat buah hati kalian.
Ku angkat tubuhku dari ranjang ibu menuju teras rumah. "Aku tak boleh terlena dan terlihat sakit disini." Hiburku.
Sang surya rupanya tengah mengirim cahaya perpisahan kala ini, sinar sayup mulai terlihat dipucuk-pucuk daun pepohonan depan rumah. Dalam diam, ku telisik sisi-sisi rumah dan sekitarnya. Aku pun mulai menikmati kisah natural yang tersuguh dalam tatapanku. Beberapa orang anak perempuan terlihat tengah merangkai drama melalui hayalan mereka sebagai orang dewasa. "Ruang tamuku disini, ruang tamu mu disana ya, kamar tidur disebelah ruang tamu." Kata salah seorang diantara mereka. Aku tersenyum kecil, terurai semua cerita masa kecilku, yang tak jauh beda dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Dan mulai tersadar juga, bahwa tanah lahirku kini telah jauh berbeda, sudah makin mentereng dandanannya. Bukan lagi tempat sederhana tempat aku bermain pasar-pasaran dulu.
Di sisi yang lain, terlihat beberapa orang anak laki-laki tengah bermain mobil-mobilan, seolah-olah mereka benar-benar supir yang professional dalam bidangnya. Beberapa saat kemudian, salah seorang diantara mereka berjalan mundur, entah dengan alasan apa. Sepertinya ia tengah ingin pulang ke rumahnya, apa ingin minum, ambil makanan atau mobil, karena ku lihat ia sendiri yang tak membawa mobil mainan bersamanya. Sambil berjalan mundur, ia berkata "Awas lho ya, tak kandakno ayah nek ndak…!" ujarnya lugu. Aku tersenyum kembali, seolah hanya ia yang punya ayah. Tak terpikir bahwa temannya juga punya ayah. Tak terpikir juga kalau ayahnya dan ayah temannya jadi bertengkar sebab anaknya saling mengadu. Anganku mulai memutar sebuah kebijaksanaan natural, betapa pemikiran manusia itu memang dijalankan Allah sesuai pada tingkatannya. Ketika balita, tak akan ada pemikiran mengenai orang lain, yang ada hanya dirinya sendiri, tak peduli dengan keadaan orang. Seiring waktu pemikiran manusia akan semakin bergulir menjadi lebih sensitive kepada manusia yang lain, sejalan dengan teori "Manusia adalah makhluk sosial". artinya manusia tak akan pernah bisa hidup dengan keegoisan, bagaimanapun juga butuh uluran yang lain. Sehingga pada masa itulah, manusia dituntut untuk saling memahami sesamanya.
Oh… betapa terasa ringan dan sok bertanggung jawab ketika menjadi "Anak Kecil", Ingatlah…betapa aku dahulu pun seperti mereka itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar