Aku
tak tahan dengan suhu tubuhku yang semakin memanas, Tipus ini sangat meyiksaku,
kala dingin seolah aku sedang diliputi salju tebal disekelilingku, kala panas
seolah aku tengah tidur diatas penanangan nasi. Beberapa menit kemudian, Ku
dengar ibu berujar sendiri sambil memegang tanganku yang tengah kepanasan,"Iki
kok puanas tangan e", aku pura-pura tidur, seolah tak mendengar apa
yang diucap ibu. "Ya Robb..Betapa tersiksa ketika aku harus
bersandiwara di depan orang tuaku ketika sakit seperti ini" Keluhku
dalam hati. Betapa aku harus melakukan ini agar kalian tak cemas melihat buah
hati kalian.
Ku
angkat tubuhku dari ranjang ibu menuju teras rumah. "Aku tak boleh
terlena dan terlihat sakit disini." Hiburku.
Sang
surya rupanya tengah mengirim cahaya perpisahan kala ini, sinar sayup mulai
terlihat dipucuk-pucuk daun pepohonan depan rumah. Dalam diam, ku telisik
sisi-sisi rumah dan sekitarnya. Aku pun mulai menikmati kisah natural yang
tersuguh dalam tatapanku. Beberapa orang anak perempuan terlihat tengah
merangkai drama melalui hayalan mereka sebagai orang dewasa. "Ruang
tamuku disini, ruang tamu mu disana ya, kamar tidur disebelah ruang tamu."
Kata salah seorang diantara mereka. Aku tersenyum kecil, terurai semua cerita
masa kecilku, yang tak jauh beda dengan apa yang mereka lakukan saat ini. Dan
mulai tersadar juga, bahwa tanah lahirku kini telah jauh berbeda, sudah makin mentereng
dandanannya. Bukan lagi tempat sederhana tempat aku bermain pasar-pasaran dulu.
Di
sisi yang lain, terlihat beberapa orang anak laki-laki tengah bermain
mobil-mobilan, seolah-olah mereka benar-benar supir yang professional dalam
bidangnya. Beberapa saat kemudian, salah seorang diantara mereka berjalan
mundur, entah dengan alasan apa. Sepertinya ia tengah ingin pulang ke rumahnya,
apa ingin minum, ambil makanan atau mobil, karena ku lihat ia sendiri yang tak
membawa mobil mainan bersamanya. Sambil berjalan mundur, ia berkata "Awas
lho ya, tak kandakno ayah nek ndak…!" ujarnya lugu. Aku tersenyum
kembali, seolah hanya ia yang punya ayah. Tak terpikir bahwa temannya juga
punya ayah. Tak terpikir juga kalau ayahnya dan ayah temannya jadi bertengkar
sebab anaknya saling mengadu. Anganku mulai memutar sebuah kebijaksanaan
natural, betapa pemikiran manusia itu memang dijalankan Allah sesuai pada
tingkatannya. Ketika balita, tak akan ada pemikiran mengenai orang lain, yang
ada hanya dirinya sendiri, tak peduli dengan keadaan orang. Seiring waktu
pemikiran manusia akan semakin bergulir menjadi lebih sensitive kepada manusia
yang lain, sejalan dengan teori "Manusia adalah makhluk sosial".
artinya manusia tak akan pernah bisa hidup dengan keegoisan, bagaimanapun juga
butuh uluran yang lain. Sehingga pada masa itulah, manusia dituntut untuk
saling memahami sesamanya.
Oh…
betapa terasa ringan dan sok bertanggung jawab ketika menjadi "Anak
Kecil", Ingatlah…betapa aku dahulu pun seperti mereka itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar