Sabtu, 17 Mei 2014

Maksudku ingin...



          Ku kendarai motorku dengan perlahan, karena pikirku tengah berputar-putar melamunkan beberapa hal yang efisien. Samar-samar, retinaku yang error menatap sesosok perempuan tua di ujung gang tempat aku berbelok ke arah dinoyo.
Mbah itu sudah sangat renta, beliau berjalan dengan terbungkuk. Dari jauh, ku perhatikan setiap gerak tubuhnya. Sorot matanya lurus memperhatikan lalu lalang mobil, mencari celah untuk menyebrang, tangannya mengayuh-ayuh dengan gemetaran agar mobil yang berlalu lalang segera berhenti untuk memberinya kesempatan menyeberang. Dengan langkah yang tertatih-tatih, ia melangkahkan kakinya ke tengah jalan.
Hatiku tak tega melihat fenomena ini, tak layak seorang mbah yang sangat renta menyeberang jalan raya seorang diri. Ingin rasanya ku gandeng tangan keriput itu dan ku tuntun sampai diseberang.
        Tanpa terasa, ku dapati diriku terdiam di ujung belokan dengan tatapan lurus pada mbah yang tengah menyeberang itu. Aku tertegun diatas motor, hanya memperhatikan beliau. Karena beliau terlihat sangat berusaha untuk menyeberang sendiri. “Nanti kalau keliatannya beliau kesusahan ditengah-tengah, aku bakal turun, tak tuntun sampai ujung.” Pikirku. Ternyata beliau berhasil mencapai seberang sendirian. Ku jalankan kembali motorku. Tanpa teasa, orang-orang disana tengah memandangku kebingungan. Ternyata aku secara tiba-tiba menghentikan motorku dipinggir jalan dan memperhatikan mbah itu. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, “lah yo, opo sing di delok arek iki?”. Hehehe. Aku tertawa kecil, mengingat tingkahku yang terlihat dongo kala itu, ndlomong melihat mbah yang mau nyeberang, yang ingin ku gandeng tangannya hingga diseberang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar