Ku kendarai motorku dengan perlahan,
karena pikirku tengah berputar-putar melamunkan beberapa hal yang efisien.
Samar-samar, retinaku yang error menatap sesosok perempuan tua di ujung gang
tempat aku berbelok ke arah dinoyo.
Mbah itu sudah sangat renta, beliau
berjalan dengan terbungkuk. Dari jauh, ku perhatikan setiap gerak tubuhnya.
Sorot matanya lurus memperhatikan lalu lalang mobil, mencari celah untuk
menyebrang, tangannya mengayuh-ayuh dengan gemetaran agar mobil yang berlalu lalang
segera berhenti untuk memberinya kesempatan menyeberang. Dengan langkah yang
tertatih-tatih, ia melangkahkan kakinya ke tengah jalan.
Hatiku tak tega melihat fenomena
ini, tak layak seorang mbah yang sangat renta menyeberang jalan raya seorang
diri. Ingin rasanya ku gandeng tangan keriput itu dan ku tuntun sampai
diseberang.
Tanpa terasa, ku dapati diriku
terdiam di ujung belokan dengan tatapan lurus pada mbah yang tengah menyeberang
itu. Aku tertegun diatas motor, hanya memperhatikan beliau. Karena beliau
terlihat sangat berusaha untuk menyeberang sendiri. “Nanti kalau keliatannya
beliau kesusahan ditengah-tengah, aku bakal turun, tak tuntun sampai ujung.”
Pikirku. Ternyata beliau berhasil mencapai seberang sendirian. Ku jalankan
kembali motorku. Tanpa teasa, orang-orang disana tengah memandangku
kebingungan. Ternyata aku secara tiba-tiba menghentikan motorku dipinggir jalan
dan memperhatikan mbah itu. Mungkin mereka bertanya-tanya dalam hati, “lah yo,
opo sing di delok arek iki?”. Hehehe. Aku tertawa kecil, mengingat tingkahku
yang terlihat dongo kala itu, ndlomong melihat mbah yang mau nyeberang, yang
ingin ku gandeng tangannya hingga diseberang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar