Hari itu, Minggu, 29 September 2013.
Aku terserang penyakit galau semenjak satu hari sebelumnya. Masalah sepele
sebenarnya, hanya sebagian problem cinta yang mampir di kalbu. Sebab aku
perempuan, maka jadilah itu problem yang amat pelik dan menutup semua celah di
dadaku. Hingga menyisakan insomnia pula disepanjang malam yang ku lewati.
Dari pagi, aku hanya bisa menangis
dan meratap atas tekanan-tekanan yang bersarang di hatiku. Hingga sore hari
tiba, sampailah aku pada masa yang menuntut diriku untuk professional dalam
profesiku sebagai guru. Aku harus tetap mengajar dengan ramah dan maksimal
walau dalam keadaan galau dan stress seperti ini.
Titik didih tekanan dalam batinku
terasa semakin memuncak ketika anak-anak didiku tak seramah biasanya, hari itu
mereka lebih nakal ketika ku ajarkan ayat demi ayat al-Qur'an, pun tak
seresponsif biasanya. Makin aku menjerit dalam hatiku. Ingin ku bentak
anak-anak itu, tapi aku masih terngiang kode etikku untuk selalu bersabar dan
berlapang dada atas segala karakteristik peserta didik yang sedang ku hadapi.
Ku tarik nafas dalam-dalam dan mulai mengulangi ayat demi ayat al-Qur'an dengan
seutas senyum yang ku pampang secara paksa. "Ulaaika ashaabul Jannah"
Ucapku. Hingga terulang lebih dari lima kali bacaan itu dari bibir anak
didikku, tapi masih saja salah. "Ya Robb, aku hampir ndak kuat buat
sabar dalam profesionalku ini", keluhku dalam hati. "Aku mau
refresing ke balaikota aja abis ini, budrek banget udah"
pikirku.
Jam menunjuk pada angka 18:10,
berakhirlah sudah pembelajaran untuk anak-anak didikku. Dengan segera ku
arahkan si kupu-kupu merahku ke Balaikota malang.
Dengan langkah gontai, ku susuri
putaran tugu balaikota seorang diri,dan dengan kostum gamis, sungguh tak elok
jalan-jalan di sekitar tugu yang dipenuhi muda-mudi yang tengah berdua merajut
kasih. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin mengenang memori indahku dengan
belahan jiwaku di balaikota, ku pikir itu cukup menghibur dan membahagiakan ku,
lebih dari itu akan membuatku jauh lebih segar dan lupa akan problem cintaku.
Semua kursi di pesisir tugu sudah
penuh dengan sejoli-sejoli yang sedang bercanda, tersisa satu kursi saja, dan
tepatnya itu tempat aku duduk dengan si dia dulu. "Kok kebetulan ya"
ujarku. Langsung saja ku letakkan diriku dengan segala kerisauan diatas
sebangku kursi itu. aku hanya diam dengan menggenggam ponsel di tanganku, ku
tengok kanan kiri, seolah aku ini anak hilang, sendiri, merenung, tak ada
tujuan. Di depanku berlalu lalang
muda-mudi dengan bergandeng mesra. Aku mulai merasa kesal karena semakin
tersiksa dengan pemandangan itu. "Mau cari hiburan kok malah kesal gini
sih. liat orang-orang pada so sweet sama pasangannya, sedangkan aku?".
Ku ambil beberapa bungkus jajan yang ku temukan dalam tas kecilku. Ku nikmati
hingga bungkus terakhir dengan kesal.
Aku sudah kehabisan cara untuk
menghibur diri, tapi aku masih tak ingin beranjak dari kursiku. Mulailah aku
menangis di samping kolam balaikota itu, "Ya Robb, kalau saja aku ndak
menstruasi, bakal sholat, bakal ngaji sepanjang hari buat pelarian kesedihan
ini. Tapi kalau udah halangan gini, mau ngadu kepadamu melalui apa ya Robb.
Sungguh aku membutuhkan uluranmu saat ini. Hanya engkau tempatku mengadu dan
tau jalan keluar atas resahku." Keluhku lirih. Tiba-tiba saja ku
dengar suara samar-samar, hilang. Jelas. Hilang. Jelas. Terdengarlah olehku
bait-bait al-Qur'an. Ku usap air mataku, tergeraklah nuraniku atas suatu
hipotesa. Aku memang tak boleh membaca al-Qur'an tapi bukan berarti aku tak
boleh mendengar bacaan al-Qur'an bukan?. Kala itu, seolah Allah mengajarkan aku
untuk tetap mengingatnya dengan mendengar Kalamnya saat aku berhalangan
membaca-Nya. "Iya ya,.. ntar lah
kalo pulang tak dengerin MP3 Murottal" Pikirku. Sesaat kemudian
terurailah kembali kesedihanku tentang cintaku, "Aku tak ingin
memaksanya berubah karenaku, sungguh. Tapi aku pun perlu dimengerti sebagai
wanita" keluhku kembali. Dengan tiba-tiba satu persatu keindahan
balaikota malang mulai hidup, airmancur dalam retinaku mulai menari dengan
indahnya. Aku tertegun dengan tarian-tarian air mancur yang gemulai menerpa
teratai-teratai yang tengah merekah. Indah, sungguh indah. Keindahan yang ku
lihat begitu dalam, mengurai syukur dan bahagia yang tak pernah terkira.
Seperti halnya anak kecil yang tengah menangis dan secara tiba-tiba di pegangi
balon di tangannya. Secara kilat, hilang semua keluh dan resahku. Seolah-olah
Allah tengah berkata kepadaku, "wes tala nduk, ndak usah sedih, ada Aku".
Dan tersadarlah aku bahwa Allah tengah mencubitku,dengan mengingatkan bahwa Ia
selalu dalam hatiku untuk mendengar dan melindungiku. Aku tersentak haru, "Ya robb,
beginikah caramu memelukku yang tengah telungkup lesu, begitu indahnya engkau menghibur
dan menghapuskan deraku, begitu indahnya kau mengajarkan aku arti ketulusan".
Dengan sekejap, Hilanglah segala problem dari hati dan pikiranku. Dan dengan
mudahnya terhapus dengan kebetulan-kebetulan itu. "aku tak lagi butuh
problem solving, aku bisa tegar lagi", pikirku.
Aku menangis haru, "Ya Robb,
aku menangis disini bukan karena Engkau, aku menangis karena cinta, karena
dunia, karena hal sepele. Tapi engkau tetap memelukku dengan rahmah, engkau
tetap menghiburku, lebih dari itu aku sering ulur waktu wajibku untuk
mengagungkanmu, bahkan sering aku hutang. Tapi Engkau tak perhitungkan itu,
Engkau tetap cukupkan kebutuhanku lahir batin. Ampuni aku yang mbeling ini ya
Robb".
Betapa
manusia sekarang tak akan pernah peduli kepada sesamanya ketika ia di acuhkan,
terlebih karena lebih mementingkan hal lain, tapi Engkau tetap peduli
terhadapku yang sering acuhkan Engkau, Ya Robb, terlebih Engkau yang sepatutnya
ku agungkan.. Aku tau, serangkaian kebetulan ini bukan tak ada arti, tapi ini
caramu mengajarkan aku arti ketulusan, dan caramu menunjukkan adanya Engkau
dalam hatiku dan seluruh langkahku. Wujudmu bukan hanya sekedar teori dan sifat
ketauhidan tapi memang nyata dalam pengalaman dan hidupku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar