Sabtu, 17 Mei 2014

A Miracle


Hari itu, Minggu, 29 September 2013. Aku terserang penyakit galau semenjak satu hari sebelumnya. Masalah sepele sebenarnya, hanya sebagian problem cinta yang mampir di kalbu. Sebab aku perempuan, maka jadilah itu problem yang amat pelik dan menutup semua celah di dadaku. Hingga menyisakan insomnia pula disepanjang malam yang ku lewati.
Dari pagi, aku hanya bisa menangis dan meratap atas tekanan-tekanan yang bersarang di hatiku. Hingga sore hari tiba, sampailah aku pada masa yang menuntut diriku untuk professional dalam profesiku sebagai guru. Aku harus tetap mengajar dengan ramah dan maksimal walau dalam keadaan galau dan stress seperti ini.
Titik didih tekanan dalam batinku terasa semakin memuncak ketika anak-anak didiku tak seramah biasanya, hari itu mereka lebih nakal ketika ku ajarkan ayat demi ayat al-Qur'an, pun tak seresponsif biasanya. Makin aku menjerit dalam hatiku. Ingin ku bentak anak-anak itu, tapi aku masih terngiang kode etikku untuk selalu bersabar dan berlapang dada atas segala karakteristik peserta didik yang sedang ku hadapi. Ku tarik nafas dalam-dalam dan mulai mengulangi ayat demi ayat al-Qur'an dengan seutas senyum yang ku pampang secara paksa. "Ulaaika ashaabul Jannah" Ucapku. Hingga terulang lebih dari lima kali bacaan itu dari bibir anak didikku, tapi masih saja salah. "Ya Robb, aku hampir ndak kuat buat sabar dalam profesionalku ini", keluhku dalam hati. "Aku mau refresing ke balaikota aja abis ini, budrek banget udah" pikirku.
Jam menunjuk pada angka 18:10, berakhirlah sudah pembelajaran untuk anak-anak didikku. Dengan segera ku arahkan si kupu-kupu merahku ke Balaikota malang.
Dengan langkah gontai, ku susuri putaran tugu balaikota seorang diri,dan dengan kostum gamis, sungguh tak elok jalan-jalan di sekitar tugu yang dipenuhi muda-mudi yang tengah berdua merajut kasih. Tapi aku tak peduli, aku hanya ingin mengenang memori indahku dengan belahan jiwaku di balaikota, ku pikir itu cukup menghibur dan membahagiakan ku, lebih dari itu akan membuatku jauh lebih segar dan lupa akan problem cintaku.
Semua kursi di pesisir tugu sudah penuh dengan sejoli-sejoli yang sedang bercanda, tersisa satu kursi saja, dan tepatnya itu tempat aku duduk dengan si dia dulu. "Kok kebetulan ya" ujarku. Langsung saja ku letakkan diriku dengan segala kerisauan diatas sebangku kursi itu. aku hanya diam dengan menggenggam ponsel di tanganku, ku tengok kanan kiri, seolah aku ini anak hilang, sendiri, merenung, tak ada tujuan. Di depanku  berlalu lalang muda-mudi dengan bergandeng mesra. Aku mulai merasa kesal karena semakin tersiksa dengan pemandangan itu. "Mau cari hiburan kok malah kesal gini sih. liat orang-orang pada so sweet sama pasangannya, sedangkan aku?". Ku ambil beberapa bungkus jajan yang ku temukan dalam tas kecilku. Ku nikmati hingga bungkus terakhir dengan kesal.
Aku sudah kehabisan cara untuk menghibur diri, tapi aku masih tak ingin beranjak dari kursiku. Mulailah aku menangis di samping kolam balaikota itu, "Ya Robb, kalau saja aku ndak menstruasi, bakal sholat, bakal ngaji sepanjang hari buat pelarian kesedihan ini. Tapi kalau udah halangan gini, mau ngadu kepadamu melalui apa ya Robb. Sungguh aku membutuhkan uluranmu saat ini. Hanya engkau tempatku mengadu dan tau jalan keluar atas resahku." Keluhku lirih. Tiba-tiba saja ku dengar suara samar-samar, hilang. Jelas. Hilang. Jelas. Terdengarlah olehku bait-bait al-Qur'an. Ku usap air mataku, tergeraklah nuraniku atas suatu hipotesa. Aku memang tak boleh membaca al-Qur'an tapi bukan berarti aku tak boleh mendengar bacaan al-Qur'an bukan?. Kala itu, seolah Allah mengajarkan aku untuk tetap mengingatnya dengan mendengar Kalamnya saat aku berhalangan membaca-Nya.  "Iya ya,.. ntar lah kalo pulang tak dengerin MP3 Murottal" Pikirku. Sesaat kemudian terurailah kembali kesedihanku tentang cintaku, "Aku tak ingin memaksanya berubah karenaku, sungguh. Tapi aku pun perlu dimengerti sebagai wanita" keluhku kembali. Dengan tiba-tiba satu persatu keindahan balaikota malang mulai hidup, airmancur dalam retinaku mulai menari dengan indahnya. Aku tertegun dengan tarian-tarian air mancur yang gemulai menerpa teratai-teratai yang tengah merekah. Indah, sungguh indah. Keindahan yang ku lihat begitu dalam, mengurai syukur dan bahagia yang tak pernah terkira. Seperti halnya anak kecil yang tengah menangis dan secara tiba-tiba di pegangi balon di tangannya. Secara kilat, hilang semua keluh dan resahku. Seolah-olah Allah tengah berkata kepadaku, "wes tala nduk, ndak usah sedih, ada Aku". Dan tersadarlah aku bahwa Allah tengah mencubitku,dengan mengingatkan bahwa Ia selalu dalam hatiku untuk mendengar dan melindungiku.  Aku tersentak haru, "Ya robb, beginikah caramu memelukku yang tengah telungkup lesu, begitu indahnya engkau menghibur dan menghapuskan deraku, begitu indahnya kau mengajarkan aku arti ketulusan". Dengan sekejap, Hilanglah segala problem dari hati dan pikiranku. Dan dengan mudahnya terhapus dengan kebetulan-kebetulan itu. "aku tak lagi butuh problem solving, aku bisa tegar lagi", pikirku.
Aku menangis haru, "Ya Robb, aku menangis disini bukan karena Engkau, aku menangis karena cinta, karena dunia, karena hal sepele. Tapi engkau tetap memelukku dengan rahmah, engkau tetap menghiburku, lebih dari itu aku sering ulur waktu wajibku untuk mengagungkanmu, bahkan sering aku hutang. Tapi Engkau tak perhitungkan itu, Engkau tetap cukupkan kebutuhanku lahir batin. Ampuni aku yang mbeling ini ya Robb".
Betapa manusia sekarang tak akan pernah peduli kepada sesamanya ketika ia di acuhkan, terlebih karena lebih mementingkan hal lain, tapi Engkau tetap peduli terhadapku yang sering acuhkan Engkau, Ya Robb, terlebih Engkau yang sepatutnya ku agungkan.. Aku tau, serangkaian kebetulan ini bukan tak ada arti, tapi ini caramu mengajarkan aku arti ketulusan, dan caramu menunjukkan adanya Engkau dalam hatiku dan seluruh langkahku. Wujudmu bukan hanya sekedar teori dan sifat ketauhidan tapi memang nyata dalam pengalaman dan hidupku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar