Seringkali tangan dan kaki ku biru sebab cubitan ibuku yang terlalu
keras, sehingga orang-orang usil pun menggodaku
dengan kata, “ibumu ndak sayang
awakmu, mangkane dijiwiti”, “awakmu iku anak nemu, mangkane diseneni
terus”, demikian yang mereka katakan. Tapi aku yang kala itu masih
kanak-kanak dengan tingkat logika yang masih nol, merasa itu adalah sebuah informasi bukan sekedar
bercandaan. Sendiri aku menangis, meratap, dan bertanya-tanya, “mengapa
ketika ibuku kesal, sedemikian kerasnya beliau terhadapku? Sedangkan anak lain,
ketika berbuat salah ibunya tak sekeras itu?. Ah mungkin karena memang aku ini
anak pungutan.” Pikirku. Waktu itu teman mainku juga acapkali diperlakukan
sepertiku, dan ia memang anak angkat.
Begitu pula ketika masa membawaku pada masa remaja, tetap aku
berpikir, ibuku tak sayang padaku, bahkan ia lupa untuk menjaga perasaanku,
hanya kata-kata dan perilaku kasar yang selalu tersuguh untukku, tak peduli
besar atau kecil salahku. Aku ingin pergi jauh dari rumah, tak bersama ibu
lagi. Aku selalu mengukir kesalahan baginya.
Namun setelah sekian tahun aku menjejaki kehidupan, mulailah
terurai satu demi satu korelasi logis tentang kasih sayang ibuku yang
sedemikian dalam terhadapku, buah hatinya, darah dagingnya. Dimulai dari tangis
ibuku yang sejadi-jadinya ketika pertama kali meninggalkanku di pondok,
digenggam erat tanganku, dipeluknya badanku sebab menyadari waktu perpisahan
semakin dekat, seolah ia tak pernah bisa hidup tanpaku. Hingga bapakku
menyudahi tangisanku yang tak ingin sendiri di pondok, juga tangisan ibuku yang
tak tega meninggalkanku, ditariknya dengan paksa tangan ibuku, “Ayo mantuk,
arek e gak opo-opo ndek kene” desak bapakku. Ibuku tetap tak tenang dengan
perkataan itu, dengan paksa ia berjalan menjauh dan masuk ke mobil, tapi
pandangan dan tangannya tetap mengulur ke arahku. Sungguh realitas yang tak
pernah tereka olehku, seberat itu rasanya ketika beliau jauh dariku walau masih
satu kabupaten. Bahkan ketika om ku berkata bahwa ibuku sering menangis di
depan televisi sebab merindukan dan terbayang diriku yang selalu menemani dan
mengganggunya ketika menonton televisi, hampir aku tak percaya. Namun itulah
kasih sayang ibu, selalu tak terduga bahkan oleh buah hatinya. Aku pun melihat
sisi kehilangan dari ibuku. Bukan itu saja, ibuku juga selalu meminta untuk
menjengukku dipondok setiap seminggu sekali kala itu, hanya ingin melihatku,
dan senyum bahagiaku ketika mencicipi masakan ibuku. Ibuku juga selalu hafal
daftar makanan yang paling ku suka bahkan yang agak ku suka.
Itu adalah kali pertama aku menyadari bahwa kasih sayang ibuku
teramat sangat besar terhadapku. Terurailah memori masa kecilku, ketika ibu
menggendongku dengan tangis di teras rumah mbahku sebab aku dicaci oleh adik
bapakku. Tanpa suara, ibu menangis dengan memelukku, terlihat jelas ia tak rela
aku dimarahi. Namun, kala itu aku tak bisa mengerti hal ini.
Ibuku pun terlihat sangat sakit ketika melihat kenyataan hidup yang
tak layak untukku, ketika tuntutan finansial membuatku makan dengan lauk bawang
goreng, ketika uang saku ku tak sesuai dengan standar anak-anak yang lain atau
ketika melihatku seringkali terkapar sakit karena tubuhku yang lemah. Hanya
airmata yang berderai, tanpa suara dan tanpa keluhan. Kini aku tahu, itu karena
ibuku tak ingin aku menjadi sedih.
Ternyata memori itu belum juga berhenti. Seringkali ibu
menggendongku kesana kemari walaupun aku sudah besar, tetangga yang melihat
semua berkomentar ”wes gede kok digendong”, ibuku tetap tak
menghiraukannya, juga tetap menyuapi aku sekalipun aku sudah menginjak remaja,
selalu marah dan tak terima ketika ada seseorang yang membuatku kesal ataupun
menangis. Dan seiring dengan hal itu, sering kali aku pulang dengan menangis, ibu
pun bertanya, “lapo kok nangis nak?”, Aku pun menjawab, “Ibu, aku
ndak dikonco arek-arek”. Dengan lembut,
kata yang ibu utarakan selalu terngiang ditelingaku, “Nek ndak
dikonco arek-arek, kene nak ambek ibu ae, babawes arek-arek ndablek ancene”.
Aku pun merasa tenang sebab selalu ada pembelaku.
Aku mulai mengurai perasaan-perasaan masa kecilku. Seringkali aku
menjustifikasi ibuku tak sayang terhadapku, sebab aku hanya melihat bentuk
kekesalannya saat beliau marah tanpa berfikir apa maksud dan tujuan ibuku
demikian. Kini pun ku fahami, bahwa ibuku selalu mencemaskan keburukan
terhadapku, hingga ia sebegitu gelisah dan marah ketika aku berbuat salah.
Hanya karena takut aku tak menjadi orang yang benar dikemudian hari. Namun,
yang demikian tak terpikir olehku kala itu. Bahwa betapa kemarahan ibu semata-mata
teruntuk diriku sendiri, tak ada keuntungan untuk diri ibu sama sekali.
Sebenarnya Kasih sayangnya lah yang membuncah ketika ibu sedang marah.
Ibu tak pernah mampu melihat kesulitanku, bahkan sekedar
membayangkannya. Selalu ia buat aku merasa nyaman dan tentram dengan jerih
payahnya. Jika tak mampu dengan tangan dan jemarinya, maka ia layangkan
berutas-utas doa teruntuk diriku. Aku tahu, ibu selalu menyebut namaku dalam
setiap doanya,agar aku bahagia, agar aku sukses, agar.. agar… Dan agar…..
Pada suatu kali, Allah memberiku kesempatan untuk berbakti dengan
merawat ibu ketika ibu sedang sakit, aku sangat merasakan bagaimana lelahnya
tugas seorang ibu. Aku pun kembali menyadari bahwa sebetapa aku berkorban, tak
akan pernah mampu mengganti kasih sayang yang telah tercurah untukku. Buah
hatinya. Dan nyatanya, kebiasaanku untuk merawat ibu ketika sakit, melelehkan
airmataku ketika jauh dari ibu, terngiang bagaimana aku bisa melayani ibu
dengan khidmat sekedar mencurahkan kasih sayangku yang tak pernah terbanding
dengannya. Hatiku berkata, “Jam segini aku nyuapin ibu, ngelus-elus ibu,
membuatkan ibu bubur… Allah, sedang apa ibuku kini?bahagiakah ia?atau sedang
risaukah ia?”.
Hingga akhirnya ku panjatkan sebuah pinta, “Izinkan aku
membahagiakan ibu bapakku, mewujudkan mimpi ibu bapakku.” Dan rasanya tak
ingin berpisah dengan mereka selama-lamanya. Jika dunia tak bisa menjanjikan
keinginanku, maka izinkan akhirat yang akan mewujudkannya, Tuhan. “Jaga ibu bapakku, ketika
jauh dari pandanganku, Ya Robb. Kuatkan atas segala cobaan dan ujian,
senantiasa tentramkan hati keduanya.”
Kini aku seorang anak, Ibu. Bukan lagi bocah nakal yang sering
membuat ibu kesal. Restui diriku untuk menjadi seorang anak yang shalihah, agar
kita tetap berkumpul dalam keluarga sakinah di akhirat nanti. Jangan menyesal
melahirkan aku, seorang putri tunggal yang seringkali membuat ibu jengkel. Dan
ibu, riwayatku ini mengingatkanku bahwa perempuan yang kuat itu buakanperempuan yang
tak pernah menangis, tapi perempuan yang tak berputus asa sekalipun beratus-ratus
kali menghadapi badai kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar