Rabu, 08 Oktober 2014

Perjalanan Kasih Ananda




Seringkali tangan dan kaki ku biru sebab cubitan ibuku yang terlalu keras, sehingga  orang-orang usil pun menggodaku dengan kata, “ibumu  ndak sayang awakmu, mangkane dijiwiti”, “awakmu iku anak nemu, mangkane diseneni terus”, demikian yang mereka katakan. Tapi aku yang kala itu masih kanak-kanak dengan tingkat logika yang masih nol, merasa  itu adalah sebuah informasi bukan sekedar bercandaan. Sendiri aku menangis, meratap, dan bertanya-tanya, “mengapa ketika ibuku kesal, sedemikian kerasnya beliau terhadapku? Sedangkan anak lain, ketika berbuat salah ibunya tak sekeras itu?. Ah mungkin karena memang aku ini anak pungutan.” Pikirku. Waktu itu teman mainku juga acapkali diperlakukan sepertiku, dan ia memang anak angkat.
Begitu pula ketika masa membawaku pada masa remaja, tetap aku berpikir, ibuku tak sayang padaku, bahkan ia lupa untuk menjaga perasaanku, hanya kata-kata dan perilaku kasar yang selalu tersuguh untukku, tak peduli besar atau kecil salahku. Aku ingin pergi jauh dari rumah, tak bersama ibu lagi. Aku selalu mengukir kesalahan baginya.
Namun setelah sekian tahun aku menjejaki kehidupan, mulailah terurai satu demi satu korelasi logis tentang kasih sayang ibuku yang sedemikian dalam terhadapku, buah hatinya, darah dagingnya. Dimulai dari tangis ibuku yang sejadi-jadinya ketika pertama kali meninggalkanku di pondok, digenggam erat tanganku, dipeluknya badanku sebab menyadari waktu perpisahan semakin dekat, seolah ia tak pernah bisa hidup tanpaku. Hingga bapakku menyudahi tangisanku yang tak ingin sendiri di pondok, juga tangisan ibuku yang tak tega meninggalkanku, ditariknya dengan paksa tangan ibuku, “Ayo mantuk, arek e gak opo-opo ndek kene” desak bapakku. Ibuku tetap tak tenang dengan perkataan itu, dengan paksa ia berjalan menjauh dan masuk ke mobil, tapi pandangan dan tangannya tetap mengulur ke arahku. Sungguh realitas yang tak pernah tereka olehku, seberat itu rasanya ketika beliau jauh dariku walau masih satu kabupaten. Bahkan ketika om ku berkata bahwa ibuku sering menangis di depan televisi sebab merindukan dan terbayang diriku yang selalu menemani dan mengganggunya ketika menonton televisi, hampir aku tak percaya. Namun itulah kasih sayang ibu, selalu tak terduga bahkan oleh buah hatinya. Aku pun melihat sisi kehilangan dari ibuku. Bukan itu saja, ibuku juga selalu meminta untuk menjengukku dipondok setiap seminggu sekali kala itu, hanya ingin melihatku, dan senyum bahagiaku ketika mencicipi masakan ibuku. Ibuku juga selalu hafal daftar makanan yang paling ku suka bahkan yang agak ku suka.
Itu adalah kali pertama aku menyadari bahwa kasih sayang ibuku teramat sangat besar terhadapku. Terurailah memori masa kecilku, ketika ibu menggendongku dengan tangis di teras rumah mbahku sebab aku dicaci oleh adik bapakku. Tanpa suara, ibu menangis dengan memelukku, terlihat jelas ia tak rela aku dimarahi. Namun, kala itu aku tak bisa mengerti hal ini.

Ibuku pun terlihat sangat sakit ketika melihat kenyataan hidup yang tak layak untukku, ketika tuntutan finansial membuatku makan dengan lauk bawang goreng, ketika uang saku ku tak sesuai dengan standar anak-anak yang lain atau ketika melihatku seringkali terkapar sakit karena tubuhku yang lemah. Hanya airmata yang berderai, tanpa suara dan tanpa keluhan. Kini aku tahu, itu karena ibuku tak ingin aku menjadi sedih.
Ternyata memori itu belum juga berhenti. Seringkali ibu menggendongku kesana kemari walaupun aku sudah besar, tetangga yang melihat semua berkomentar ”wes gede kok digendong”, ibuku tetap tak menghiraukannya, juga tetap menyuapi aku sekalipun aku sudah menginjak remaja, selalu marah dan tak terima ketika ada seseorang yang membuatku kesal ataupun menangis. Dan seiring dengan hal itu, sering kali aku pulang dengan menangis, ibu pun bertanya, “lapo kok nangis nak?”, Aku pun menjawab, “Ibu, aku ndak dikonco arek-arek”. Dengan lembut,  kata yang ibu utarakan selalu terngiang ditelingaku, “Nek ndak dikonco arek-arek, kene nak ambek ibu ae, babawes arek-arek ndablek ancene”. Aku pun merasa tenang sebab selalu ada pembelaku.
Aku mulai mengurai perasaan-perasaan masa kecilku. Seringkali aku menjustifikasi ibuku tak sayang terhadapku, sebab aku hanya melihat bentuk kekesalannya saat beliau marah tanpa berfikir apa maksud dan tujuan ibuku demikian. Kini pun ku fahami, bahwa ibuku selalu mencemaskan keburukan terhadapku, hingga ia sebegitu gelisah dan marah ketika aku berbuat salah. Hanya karena takut aku tak menjadi orang yang benar dikemudian hari. Namun, yang demikian tak terpikir olehku kala itu. Bahwa betapa kemarahan ibu semata-mata teruntuk diriku sendiri, tak ada keuntungan untuk diri ibu sama sekali. Sebenarnya Kasih sayangnya lah yang membuncah ketika ibu sedang marah.
Ibu tak pernah mampu melihat kesulitanku, bahkan sekedar membayangkannya. Selalu ia buat aku merasa nyaman dan tentram dengan jerih payahnya. Jika tak mampu dengan tangan dan jemarinya, maka ia layangkan berutas-utas doa teruntuk diriku. Aku tahu, ibu selalu menyebut namaku dalam setiap doanya,agar aku bahagia, agar aku sukses, agar.. agar… Dan agar…..
Pada suatu kali, Allah memberiku kesempatan untuk berbakti dengan merawat ibu ketika ibu sedang sakit, aku sangat merasakan bagaimana lelahnya tugas seorang ibu. Aku pun kembali menyadari bahwa sebetapa aku berkorban, tak akan pernah mampu mengganti kasih sayang yang telah tercurah untukku. Buah hatinya. Dan nyatanya, kebiasaanku untuk merawat ibu ketika sakit, melelehkan airmataku ketika jauh dari ibu, terngiang bagaimana aku bisa melayani ibu dengan khidmat sekedar mencurahkan kasih sayangku yang tak pernah terbanding dengannya. Hatiku berkata, “Jam segini aku nyuapin ibu, ngelus-elus ibu, membuatkan ibu bubur… Allah, sedang apa ibuku kini?bahagiakah ia?atau sedang risaukah ia?”.
Hingga akhirnya ku panjatkan sebuah pinta, “Izinkan aku membahagiakan ibu bapakku, mewujudkan mimpi ibu bapakku.” Dan rasanya tak ingin berpisah dengan mereka selama-lamanya. Jika dunia tak bisa menjanjikan keinginanku, maka izinkan akhirat yang akan mewujudkannya, Tuhan. “Jaga ibu bapakku, ketika jauh dari pandanganku, Ya Robb. Kuatkan atas segala cobaan dan ujian, senantiasa tentramkan hati keduanya.”
Kini aku seorang anak, Ibu. Bukan lagi bocah nakal yang sering membuat ibu kesal. Restui diriku untuk menjadi seorang anak yang shalihah, agar kita tetap berkumpul dalam keluarga sakinah di akhirat nanti. Jangan menyesal melahirkan aku, seorang putri tunggal yang seringkali membuat ibu jengkel. Dan ibu, riwayatku ini mengingatkanku bahwa perempuan yang kuat itu buakanperempuan yang tak pernah menangis, tapi perempuan yang tak berputus asa sekalipun beratus-ratus kali menghadapi badai kehidupan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar