Ntah mengapa, aku begitu memfaforitkan salah satu fenomena dalam
perjalananku menuju kampus.
Setiap pagi, aku melalui gang demi gang disepanjang jalan raya
Tlogomas. Dan di salah satu gang itu, aku menemukan sosok penuh semangat.
Sesosok laki-laki yang tak asing dalam sajian pagiku itu,
berprofesi sebagai juru parkir. Namun, ntah… Ia selalu membuatku malu, jika aku
memulai hari dengan malas. Ia selalu terlihat menyenangkan walau tanpa seutas
senyum dibibirnya. Ia terlihat berbeda dari juru parkir yang lain, selalu.
Dengan penuh semangat, ia ayunkan tangannya tanpa henti, senada
dengan peluit yang ditiupnya. Dan ketika ada motor yang ingin menyebrang ia
akan maju, menjorok ke jalan dengan isyarat tangan di atas yang menandakan agar
pengendara motor di jalan raya memberi kesempatan penyebrang.
Badannya tegap, wajahnya polos, tatapannya mantap, lurus dan
serius. Sekilas dari gerakan tubuhnya, ia terlihat sedikit idiot. Dan bajunya
yang lusuh mencerminkan hidupnya yang keras. Tapi tak pernah ia terlihat lesu
dan lemas dalam kinerjanya. Simbol-simbol tubuhnya selalu memperlihatkan
semangat juangnya yang tinggi.
Aku tak faham, jurus apa yang ia gunakan. Sehingga ia selalu mampu
merubah cemberut di bibirku menjadi sebuah senyum simpul yang permanen. Dan
satu hal yang tak mampu ku reka juga, ntah kepada siapa ia persembahkan
juangnya. Jerih payahnya. Istrinya kah? Anaknya kah? Ntahlah… Aku tak mengerti.
Yang jelas, aku tertarik pada semangatnya. Semangat yang tak pernah teredam dan
harus ku miliki. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmah-Nya kepada juru parkir
faforitku. Semoga Allah memberkahinya selalu. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar