Minggu, 04 Januari 2015

Kisah Sebuah Gelas


            Suatu kala, sebuah gelas yang terisi penuh berdiri kokoh diatas meja. Ia selalu dapat memberikan kesejukan pada setiap mereka yang merasa dahaga. Namun, suatu hari Tangan Tuhan mendorong gelas itu semakin menuju ujung dan akhirnya tersungkurlah ia di lantai. Cerai berai. Terpecah belah. Tak berbentuk lagi. Dengan perlahan, Tangan Tuhan pula yang memungut dan memadukan kembali puing-puing gelas itu satu per satu, hingga terbentuklah ia kembali menjadi sebuah gelas  yang utuh dengan segenap guratan-guratan bekas benturan dan pecahan. Ia terlihat berdiri seperti gelas yang sebelumnya, sayangnya ia tak demikian juga. Gelas itu tak dapat lagi terisi air penuh seperti sediakala. Ia dapat menyejukkan namun tidak dapat memberi rasa lega pada peminumnya. Ia sudah tak sempurna secara fungsi. Tapi cobalah lihat sisi lain, ia serasa gelas baru, bukan lagi gelas lama yang sudah pudar warnanya. Kini ia memiliki nilai estetika yang lebih tinggi. Ia terlihat jauh lebih indah dengan guratan-guratan yang seolah-olah variasi dan hiasan baginya.

Gelas yang sudah menjadi pecahan kaca, memang tak akan kembali sempurna seperti sediakala, tapi ia bisa menjadi gelas utuh dengan keindahan lain. persoalannya hanya terletak pada hati kita, bagaimana kita bisa melihat sisi indah itu. Melihat dan membandingkan kehancuran yang sudah terjadi dengan kesempurnaan sebelumnya hanya membuat hati kita semakin sakit. Karena penyesalan tidak memiliki guna kecuali sebagai pijakan untuk beranjak. Lagipula didunia tidak ada yang sempurna, semuanya tergantung hati kita, dari sisi mana kita mau melihat. 

2 komentar: