Minggu, 30 November 2014

Ibu… Aku Rindu Parasmu

Ibu…Aku ikut!” teriakku. Aku gelagapan, tersadar dari tidurku. “Astaghfirullah hal adziiim” ucapku dalam hati. Sejenak aku termenung memikirkan mimpiku. Ku lirik jam ponselku, menunjuk angka 02:24. Ku usap wajahku dan bangun menuju tempat wudhu. Tetes demi tetes air wudhu yang dingin membuat pikirku jernih. Langsung aku menuju musholla untuk sholat dua rokaat. Tahajjud.
Seusai salam, ku angkat kedua tanganku dan mengirim fatihah untuk ibundaku yang telah bersinar menjadi bintang di Arasy bersama Penciptaku.
Aku beranjak dari munajahku menuju teras musholla. Hanya duduk santai menikmati hembusan demi hembusan angin malam, karena mataku sudah tak mau terpejam lagi. Aku termenung kembali mengingat-ingat mimpiku barusan. “Kulo rindu njenengan sanget ibu. Rinduuu sanget”. Tiba-tiba terpikirkan hidupku beberapa tahun silam, ketika aku masih mabuk, tak tau darat dan laut. Ketika aku masih tak tau kemana arah tujuan hidupku, tak tau harus kemana ku pijakkan kakiku. “Ibu pasti nangis liat aku yang bejat, andai beliau hidup pasti malu telah melahirkan aku”. Maki diriku. Ku lihat atap-atap musholla, ku gelar pandanganku jauh sejauh retinaku menangkap bayangan. Ku dapati diriku tengah menjadi santri di pondok pesantren terpencil di desa bapak dan ibu tiriku, Pondok Pesantren Al-Muthmainnah yang didirikan oleh Gus Imam Samsuri. Malaikat dunia yang sudi memungut aku dari jurang nista.
Benakku kembali memutar tanya. “apa ibu bangga lihat aku nyantri disini? sedang banyak orang yang mencela santri itu masa depannya suram.” Bagaimana tidak, santri hanya dibekali ngaji dan ngaji, tidak pernah diajari cara mencari nafkah. Kata orang-orang begitu. “tapi aku yakin ibu lebih bangga aku seperti ini dari pada aku jadi pecandu miras seperti dulu.” Jawabku sendiri atas pertanyaan yang ku buat beberapa menit tadi.
Kisah masa laluku kembali terurai dalam angan, ketika aku masih menjadi seorang montir di bengkel besar dalam salah satu Mall di Surabaya, yang khusus menangani mobil-mobil mewah. Setiap bulan, gajiku hampir mencapai 2 juta rupiah. Aku tak menyewa kos, karena itu setiap malam aku menjadi gelandangan dan mabuk-mabukan dengan anak-anak jalanan lainnya. Tidurku ngemper dari satu toko ke toko yang lain. Hidupku bebas, hanya bersenang-senang dengan sebotol bir mahal. Karena gajiku besar dan tak ada keperluan selain makan.
 Sepanjang malam aku hanya ditemani botol-botol minuman keras, tak terpikir tujuan hidupku sama sekali. Sampai akhirnya suatu hari,… “Arif, sini kamu!” perintah majikannu. “Iya bos?” jawabku. “ku perhatikan, kamu yang paling ulet di bengkel ini, kerjamu juga bagus. Tinggal dimana kamu?” tatapan majikanku terlihat serius melihatku. “pindah-pindah bos, saya ndak punya tempat tinggal tetap.” Jelasku. “tinggal lah saja di rumahku, ada kamar kosong. sekalian bantu-bantu jaga rumah.” Sejak saat itu hidupku terasa lebih terangkat, seperti kucing kampung yang menjelma kucing angora. Aku tinggal di rumah besar, tempat tinggal majikanku.
Kehidupanku memang terangkat. Menjadi lebih terhormat dari sisi tempat tinggalku. Namun, gaya hidupku belum juga beranjak dari botol demi botol minuman keras.
Bosku bukanlah muslim, ia seorang kristen. Jadi bukanlah masalah baginya ketika mendapati diriku tengah sakau di kamarku. Ia tak pernah peduli. Sehingga tinggal dirumah yang bak istana itupun bagiku tak lebih dari hidup di kandang hewan. Bagaimana tidak? Setiap hari ku lihat putri tunggal bosku tengah bermesraan di kamar dengan pacarnya, bahkan hampir setiap hari ku temukan mereka tidur bersama tanpa ikatan pernikahan. Yah.. mungkin bagi mereka hidup ini  adalah milik mereka selagi ada uang dalam kantong. Tak ada Tuhan atau apapun yang menghalangi nafsu mereka di jurang kehinaan yang mereka anggap surga itu. Aku pun semakin meleleh dalam kehidupan ala surga yang jahanam itu.
Hingga suatu hari aku mendapati sebuah pesan dari adik tiriku yang tanpa ku sadari, itulah penyebab aku menemukan sebuah cahaya di sebuah desa kecil. Ia satu-satunya yang menyayangiku dengan tulus setelah ayah kandung dan ibu tiriku tidak pernah menganggapku ada. Ibu kandungku meninggal disaat aku masih balita. Aku tak pernah mengingat wajahnya. Aku mengenali ibuku, dari sisa-sisa foto yang ia tinggalkan.
Dalam pesan itu, adikku menyampaikan kabar pernikahannya. Ia mengancam tidak akan pernah bahagia jika aku tidak hadir dalam event pernikahan itu. Aku mulai menimbang-nimbang kehidupanku dengan menyusuri tiap tiap lorong masalaluku, hingga pada akhirnya ku dapati sebuah titik terang bagiku. Apalah artinya pekerjaan dan uang kalau harus mengabaikan satu-satunya keluarga yang menganggapku berharga. Toh kehidupanku tak pernah terasa jauh lebih baik. Mungkin inilah kebahagiaan yang bisa ku raih saat ini.
Akhirnya pulanglah aku ke desa ayah kandung dan ibu tiriku untuk menghadiri pernikahan adik tiriku. Namun, setelah satu minggu tinggal di desa itu, aku merasa nyaman, dengan teman-teman yang berpakaian muslim dan ramah. Sempat aku berfikir mungkin hidup mereka ini terasa jauh lebih berarti dari pada hidupku yang sudah amburadul. Namun, waktu itu aku masih gengsi dan sangat malas untuk berbaur dalam aktifitas mereka seperti ngaji, sholat, dan lain-lain. seringkali teman-teman baruku mengajakku untuk ngaji bersama mereka, tapi aku tetap tak bergeming.
Suatu ketika dirumah ayahku ditempati ngaji, aku terpaksa ikut acara itu. Aku duduk ditengah-tengah kerumunan mereka yang berbaju putih-putih, begitupun aku. Namun aku tidak mengenakan kopyahku. Aku terdiam diantara mereka. Telingaku rasanya pecah mendengar dengung dengung kalimat arab yang dibaca. Sungguh, aku tak suka bacaan-bacaan itu. Aku berharap acara itu segera berakhir. Setelah itu, aku tak berencana lagi untuk datang diacara semacam itu.
Kian hari, aku semakin panas dengan perlakuan ibu tiriku yang memang tak suka dengan kehadiranku di rumah itu. Diajaklah aku oleh seorang teman untuk ikut serta dengannya tidur di pondok pesantren yang terletak diujung dusun itu. Karena aku tak memiliki pilihan tempat tinggal lagi maka ku iyakan ajakan itu. Sebenarnya aku masih memiliki rumah di kampung satu kecamatan dengan desa itu, namun aku ingin berlama lama di desa itu. Aku hanya merasa damai disana.
Beberapa hari tinggal disana, aku dipinjami baju koko dan sarung. diajak ngaji dan sholat dari yang wajib sampai yang sunnah. Hingga tanpa ku sadar, aku mendapati diriku mulai merasakan damai ketika membaca beberapa bait burdah, al-Qur’an dan maulid-maulid yang lainnya. Aku tidak menemukan kesulitan dalam mempelajari al-Qur’an, karena pada masa kanak-kanak dahulu aku termasuk anak yang pintar dalam membaca al-Qur’an. Semakin hari, aku semakin merasakan manis dalam setiap majlis ta’lim. Sejak itulah ku putuskan untuk nyantri dan menebus masa-masa kelamku.
Aku tersentak dari lamunan ketika tarhim mulai menyapa semburat fajar. ku angkat tubuhku dari lantai dan bergegas menuju musholla. Ku ambil mushaf al-Qur’an dan mulai melantunkannya. Namun, beberapa bait aku melantunkan ayat-ayat al-Qur’an, pikirku kembali memutar mimpi yang beberapa saat lalu hadir dalam tidurku. Sungguh, itu adalah mimpi yang tak pernah ku temui dalam sepanjang hidupku. Terlebih hidupku di masa lalu. Tak pernah aku mengingat ibuku. Karena mengingat ibuku, seolah mengingat juga akan kemalangan hidupku. Itu semua membuatku semakin terluka. Dan aku sangat membenci kemalangan hidupku waktu itu. Namun sekarang, saat aku nyantri justru bayangan ibuku hadir dengan segenap kenangan dan pengorbanan indah yang ia berikan untukku. Beliau memeluk dan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Ia tak berpatah kata sekalipun. Namun, ia meneteskan airmata ketika memandang diriku. Ia terlihat sangat anggun dan lembut. Namun, tiba-tiba ia beranjak dan melambaikan tangannya kepadaku. Rasanya dadaku begitu sesak dengan perpisahan itu. Aku tak ingin lagi berpisah dengannya. Aku berpikir mungkin hidupku lebih berarti jika ia ada bersamaku. Aku memanggilnya. Menjerit sebisaku. Namun ia semakin menjauh dan menghilang.
Aku tak pernah mengingat ibuku, namun aku yakin, ibuku tak pernah melupakan aku, buah hatinya yang dengan pengorbanan jiwa dan raga beliau lahirkan dari rahimnya. Ia pasti hadir dalam mimpiku disaat aku sudah menjadi orang yang benar karena ia ingin menyatakan kebanggaannya terhadapku. Dan ia menangis karena merasa telah memberiku kehidupan yang sangat keras.  Cukup. Hanya itu penafsiran dari diriku. Maka ku lanjutkan bacaanku hingga saat subuh mengundangku untuk mengumandangkan adzan.

Ibu, janganlah menyesali kehidupan keras yang telah aku jalani. Karena hanya dengan takdir itu, aku bisa membedakan mana restu dan mana murka Tuhan. Walaupun aku hanya seorang yang biasa dan belum mencapai maqam yang terendah sekalipun.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar