“Ibu…Aku ikut!” teriakku. Aku gelagapan, tersadar dari
tidurku. “Astaghfirullah hal adziiim” ucapku dalam hati. Sejenak aku
termenung memikirkan mimpiku. Ku lirik jam ponselku, menunjuk angka 02:24. Ku
usap wajahku dan bangun menuju tempat wudhu. Tetes demi tetes air wudhu yang
dingin membuat pikirku jernih. Langsung aku menuju musholla untuk sholat dua
rokaat. Tahajjud.
Seusai salam, ku angkat kedua tanganku dan mengirim fatihah untuk
ibundaku yang telah bersinar menjadi bintang di Arasy bersama Penciptaku.
Aku beranjak dari munajahku menuju teras musholla. Hanya duduk
santai menikmati hembusan demi hembusan angin malam, karena mataku sudah tak
mau terpejam lagi. Aku termenung kembali mengingat-ingat mimpiku barusan. “Kulo
rindu njenengan sanget ibu. Rinduuu sanget”. Tiba-tiba terpikirkan hidupku
beberapa tahun silam, ketika aku masih mabuk, tak tau darat dan laut. Ketika
aku masih tak tau kemana arah tujuan hidupku, tak tau harus kemana ku pijakkan
kakiku. “Ibu pasti nangis liat aku yang bejat, andai beliau hidup pasti malu
telah melahirkan aku”. Maki diriku. Ku lihat atap-atap musholla, ku gelar
pandanganku jauh sejauh retinaku menangkap bayangan. Ku dapati diriku tengah
menjadi santri di pondok pesantren terpencil di desa bapak dan ibu tiriku,
Pondok Pesantren Al-Muthmainnah yang didirikan oleh Gus Imam Samsuri. Malaikat
dunia yang sudi memungut aku dari jurang nista.
Benakku kembali memutar tanya. “apa ibu bangga lihat aku nyantri
disini? sedang banyak orang yang mencela santri itu masa depannya suram.”
Bagaimana tidak, santri hanya dibekali ngaji dan ngaji, tidak pernah diajari
cara mencari nafkah. Kata orang-orang begitu. “tapi aku yakin ibu lebih
bangga aku seperti ini dari pada aku jadi pecandu miras seperti dulu.”
Jawabku sendiri atas pertanyaan yang ku buat beberapa menit tadi.
Kisah masa laluku kembali terurai dalam angan, ketika aku masih
menjadi seorang montir di bengkel besar dalam salah satu Mall di Surabaya, yang
khusus menangani mobil-mobil mewah. Setiap bulan, gajiku hampir mencapai 2 juta
rupiah. Aku tak menyewa kos, karena itu setiap malam aku menjadi gelandangan
dan mabuk-mabukan dengan anak-anak jalanan lainnya. Tidurku ngemper dari
satu toko ke toko yang lain. Hidupku bebas, hanya bersenang-senang dengan
sebotol bir mahal. Karena gajiku besar dan tak ada keperluan selain makan.
Sepanjang malam aku hanya
ditemani botol-botol minuman keras, tak terpikir tujuan hidupku sama sekali.
Sampai akhirnya suatu hari,… “Arif, sini kamu!” perintah majikannu. “Iya
bos?” jawabku. “ku perhatikan, kamu yang paling ulet di bengkel ini,
kerjamu juga bagus. Tinggal dimana kamu?” tatapan majikanku terlihat serius
melihatku. “pindah-pindah bos, saya ndak punya tempat tinggal tetap.”
Jelasku. “tinggal lah saja di rumahku, ada kamar kosong. sekalian
bantu-bantu jaga rumah.” Sejak saat itu hidupku terasa lebih terangkat,
seperti kucing kampung yang menjelma kucing angora. Aku tinggal di rumah besar,
tempat tinggal majikanku.
Kehidupanku memang terangkat. Menjadi lebih terhormat dari sisi
tempat tinggalku. Namun, gaya hidupku belum juga beranjak dari botol demi botol
minuman keras.
Bosku bukanlah muslim, ia seorang kristen. Jadi bukanlah masalah
baginya ketika mendapati diriku tengah sakau di kamarku. Ia tak pernah peduli. Sehingga
tinggal dirumah yang bak istana itupun bagiku tak lebih dari hidup di kandang
hewan. Bagaimana tidak? Setiap hari ku lihat putri tunggal bosku tengah
bermesraan di kamar dengan pacarnya, bahkan hampir setiap hari ku temukan
mereka tidur bersama tanpa ikatan pernikahan. Yah.. mungkin bagi mereka hidup
ini adalah milik mereka selagi ada uang
dalam kantong. Tak ada Tuhan atau apapun yang menghalangi nafsu mereka di
jurang kehinaan yang mereka anggap surga itu. Aku pun semakin meleleh dalam
kehidupan ala surga yang jahanam itu.
Hingga suatu hari aku mendapati sebuah pesan dari adik tiriku yang
tanpa ku sadari, itulah penyebab aku menemukan sebuah cahaya di sebuah desa
kecil. Ia satu-satunya yang menyayangiku dengan tulus setelah ayah kandung dan
ibu tiriku tidak pernah menganggapku ada. Ibu kandungku meninggal disaat aku
masih balita. Aku tak pernah mengingat wajahnya. Aku mengenali ibuku, dari
sisa-sisa foto yang ia tinggalkan.
Dalam pesan itu, adikku menyampaikan kabar pernikahannya. Ia
mengancam tidak akan pernah bahagia jika aku tidak hadir dalam event pernikahan
itu. Aku mulai menimbang-nimbang kehidupanku dengan menyusuri tiap tiap lorong
masalaluku, hingga pada akhirnya ku dapati sebuah titik terang bagiku. Apalah
artinya pekerjaan dan uang kalau harus mengabaikan satu-satunya keluarga yang
menganggapku berharga. Toh kehidupanku tak pernah terasa jauh lebih baik.
Mungkin inilah kebahagiaan yang bisa ku raih saat ini.
Akhirnya pulanglah aku ke desa ayah kandung dan ibu tiriku untuk
menghadiri pernikahan adik tiriku. Namun, setelah satu minggu tinggal di desa
itu, aku merasa nyaman, dengan teman-teman yang berpakaian muslim dan ramah.
Sempat aku berfikir mungkin hidup mereka ini terasa jauh lebih berarti dari
pada hidupku yang sudah amburadul. Namun, waktu itu aku masih gengsi dan sangat
malas untuk berbaur dalam aktifitas mereka seperti ngaji, sholat, dan
lain-lain. seringkali teman-teman baruku mengajakku untuk ngaji bersama mereka,
tapi aku tetap tak bergeming.
Suatu ketika dirumah ayahku ditempati ngaji, aku terpaksa ikut
acara itu. Aku duduk ditengah-tengah kerumunan mereka yang berbaju putih-putih,
begitupun aku. Namun aku tidak mengenakan kopyahku. Aku terdiam diantara
mereka. Telingaku rasanya pecah mendengar dengung dengung kalimat arab yang
dibaca. Sungguh, aku tak suka bacaan-bacaan itu. Aku berharap acara itu segera
berakhir. Setelah itu, aku tak berencana lagi untuk datang diacara semacam itu.
Kian hari, aku semakin panas dengan perlakuan ibu tiriku yang
memang tak suka dengan kehadiranku di rumah itu. Diajaklah aku oleh seorang
teman untuk ikut serta dengannya tidur di pondok pesantren yang terletak
diujung dusun itu. Karena aku tak memiliki pilihan tempat tinggal lagi maka ku
iyakan ajakan itu. Sebenarnya aku masih memiliki rumah di kampung satu
kecamatan dengan desa itu, namun aku ingin berlama lama di desa itu. Aku hanya
merasa damai disana.
Beberapa hari tinggal disana, aku dipinjami baju koko dan sarung.
diajak ngaji dan sholat dari yang wajib sampai yang sunnah. Hingga tanpa ku
sadar, aku mendapati diriku mulai merasakan damai ketika membaca beberapa bait
burdah, al-Qur’an dan maulid-maulid yang lainnya. Aku tidak menemukan kesulitan
dalam mempelajari al-Qur’an, karena pada masa kanak-kanak dahulu aku termasuk
anak yang pintar dalam membaca al-Qur’an. Semakin hari, aku semakin merasakan
manis dalam setiap majlis ta’lim. Sejak itulah ku putuskan untuk nyantri dan
menebus masa-masa kelamku.
Aku tersentak dari lamunan ketika tarhim mulai menyapa semburat
fajar. ku angkat tubuhku dari lantai dan bergegas menuju musholla. Ku ambil
mushaf al-Qur’an dan mulai melantunkannya. Namun, beberapa bait aku melantunkan
ayat-ayat al-Qur’an, pikirku kembali memutar mimpi yang beberapa saat lalu
hadir dalam tidurku. Sungguh, itu adalah mimpi yang tak pernah ku temui dalam
sepanjang hidupku. Terlebih hidupku di masa lalu. Tak pernah aku mengingat
ibuku. Karena mengingat ibuku, seolah mengingat juga akan kemalangan hidupku.
Itu semua membuatku semakin terluka. Dan aku sangat membenci kemalangan hidupku
waktu itu. Namun sekarang, saat aku nyantri justru bayangan ibuku hadir
dengan segenap kenangan dan pengorbanan indah yang ia berikan untukku. Beliau
memeluk dan mengelus kepalaku dengan penuh kasih sayang. Ia tak berpatah kata
sekalipun. Namun, ia meneteskan airmata ketika memandang diriku. Ia terlihat
sangat anggun dan lembut. Namun, tiba-tiba ia beranjak dan melambaikan
tangannya kepadaku. Rasanya dadaku begitu sesak dengan perpisahan itu. Aku tak
ingin lagi berpisah dengannya. Aku berpikir mungkin hidupku lebih berarti jika
ia ada bersamaku. Aku memanggilnya. Menjerit sebisaku. Namun ia semakin menjauh
dan menghilang.
Aku tak pernah mengingat ibuku, namun aku yakin, ibuku tak pernah
melupakan aku, buah hatinya yang dengan pengorbanan jiwa dan raga beliau
lahirkan dari rahimnya. Ia pasti hadir dalam mimpiku disaat aku sudah menjadi
orang yang benar karena ia ingin menyatakan kebanggaannya terhadapku. Dan ia
menangis karena merasa telah memberiku kehidupan yang sangat keras. Cukup. Hanya itu penafsiran dari diriku. Maka
ku lanjutkan bacaanku hingga saat subuh mengundangku untuk mengumandangkan
adzan.
“Ibu, janganlah menyesali kehidupan keras yang telah aku jalani.
Karena hanya dengan takdir itu, aku bisa membedakan mana restu dan mana murka
Tuhan. Walaupun aku hanya seorang yang biasa dan belum mencapai maqam yang
terendah sekalipun.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar