Suatu
kala, sebuah gelas yang terisi penuh berdiri kokoh diatas meja. Ia selalu dapat
memberikan kesejukan pada setiap mereka yang merasa dahaga. Namun, suatu hari
Tangan Tuhan mendorong gelas itu semakin menuju ujung dan akhirnya tersungkurlah
ia di lantai. Cerai berai. Terpecah belah. Tak berbentuk lagi. Dengan perlahan,
Tangan Tuhan pula yang memungut dan memadukan kembali puing-puing gelas itu
satu per satu, hingga terbentuklah ia kembali menjadi sebuah gelas yang utuh dengan segenap guratan-guratan
bekas benturan dan pecahan. Ia terlihat berdiri seperti gelas yang sebelumnya, sayangnya
ia tak demikian juga. Gelas itu tak dapat lagi terisi air penuh seperti
sediakala. Ia dapat menyejukkan namun tidak dapat memberi rasa lega pada
peminumnya. Ia sudah tak sempurna secara fungsi. Tapi cobalah lihat sisi lain,
ia serasa gelas baru, bukan lagi gelas lama yang sudah pudar warnanya. Kini ia
memiliki nilai estetika yang lebih tinggi. Ia terlihat jauh lebih indah dengan
guratan-guratan yang seolah-olah variasi dan hiasan baginya.
Gelas yang sudah menjadi pecahan kaca, memang tak
akan kembali sempurna seperti sediakala, tapi ia bisa menjadi gelas utuh dengan
keindahan lain. persoalannya hanya terletak pada hati kita, bagaimana kita bisa
melihat sisi indah itu. Melihat dan membandingkan kehancuran yang sudah terjadi
dengan kesempurnaan sebelumnya hanya membuat hati kita semakin sakit. Karena
penyesalan tidak memiliki guna kecuali sebagai pijakan untuk beranjak. Lagipula
didunia tidak ada yang sempurna, semuanya tergantung hati kita, dari sisi mana
kita mau melihat.
Keren kk :)
BalasHapusSyukron
Hapus