Namaku Sa'adah. Aku putri tunggal bapak Samsuri Si Penjual Tempe keliling dari desa
kecil dan terpencil. Hari-hari kami, berlalu dirumah kecil dengan debu-debu hitam di
langit-langit rumah, bekas masak kedelai untuk tempe. Kalau musim hujan tiba, seluruh
rumah akan dipenuhi tetesan-tetesan air berwarna hitam, sebab atap rumah bocor
dimana-mana. Kami tidak ada biaya untuk memperbaiki atap itu. Untungnya lantai
kami hanya terbuat dari ubin semen, jadi tetesan air hitam itu tak terlihat
mengotori rumah kami. Rumah itu juga bukan rumah pribadi keluarga kecil kami,
kasarnya kami hanya numpang di rumah mbahku, dari bapak.
Di
keluarga kecil itu, aku hanya punya bapak dan ibu. Konon kandungan ibuku tidak
subur, sehingga sulit untuk mendapat keturunan setelah melahirkan diriku.
Setiap
sore, bapak repot menginjak-injak kedelai di dapur, biar kedelainya hancur
katanya. Sedangkan ibu bertugas mencuci kedelai yang hancur itu, di kolam kecil
dekat kamar mandi. Aku sering ikut menginjak-injak kedelai bersama bapak, ku
pikir itu semacam permainan. Jadi dengan gelak tawa riang, aku berlari di
tempat bersama bapak. Kemudian ikut berenang di kolam pencucian kedelai,
setelah ibuku rampung menggarap tugasnya. Saat itu, Aku masih tak bisa memahami
kalau bapak lari-lari diatas kedelai itu untuk menghidupi aku dan ibu. Aku
masih tak mengerti kalau untuk mendapat uang itu butuh banyak memeras keringat.
Yang aku tau, ketika aku hendak pergi sekolah, aku dapat uang saku Rp. 200
untuk jajan, sedangkan rata-rata temanku dapat jatah Rp. 500 untuk uang jajan
mereka. Tapi, walau aku tau begitu, diriku yang masih dalam masa kanak-kanak tak
pernah ingin minta tambahan uang sejumlah teman-temanku.
***
Kala
itu, aku duduk di bangku TK nol kecil. Aku pergi sekolah dengan teman sebayaku
di desa. Fadhilatul Amaliyah namanya. Sebut saja dila. Orang tuanya lebih susah
dibanding bapak-ibuku. Hampir setiap pagi ia tidak mendapat uang jajan untuk
pergi ke sekolah. Aku tak pernah sampai hati melihat ia gigit jari melihatku
makan jajan sendirian. Akhirnya dengan uang Rp. 200 itu ku bagi berdua
dengannya. Dengan begitu, tiap hari aku mendapat jatah uang jajan Rp. 100. Uang
sejumlah Rp. 100, bagi anak TK pada jaman itu sudah cukup banyak. Aku bisa
membeli mie godok, atau kerupuk kalau lapar, atau sebatang es lilin ketika aku
dahaga. Aku tak bisa membeli makan dan minum secara bersama, karena uangku
hanya Rp. 100. Tapi aku yang masih tak berinsting itu, merasa sangat bahagia
melihat temanku ikut nyaman, bisa jajan bersama denganku.
***
Suatu
hari aku yang masih lugu bercerita pada ibu. “bu, mbak dila lho biasae ndak
dikasih uang sama bapaknya, aku kasian, ya uangku tak bagi sama mbak dila buat
jajan.” Ucapku polos. Sejenak ibu melotot memandangku, “Ya Allah nak,
uang itu mepet buat pean, ibu khawatir ndak cukup kok malah dibagi sama teman.
Bapak belum bisa nambah uang jajan.” Ibu terlihat geram tapi iba juga
melihat diriku yang sudah memiliki empati dimasa insting yang seharusnya belum
tumbuh. Sejurus kemudian beliu meneruskan, “Udah ndak usah
dibagi-bagi, buat pean sendiri aja.” bentaknya khawatir. Aku hanya
mengangguk, merasa bersalah karena dimarahi, tapi tak sampai juga hatiku
membiarkan temanku melongo melihat diriku makan jajan sendirian.
Akhirnya tetap ku jalani, uang jajan Rp. 100 itu setiap hari, tanpa sepengetahuan
ibuku. Uang Rp. 100 begitu berarti bagi kami, orang pinggiran, orang miskin. Yah…Dari
pada kami harus ngiler melihat kantin. Oleh karena itulah, walau nominalnya
hanya Rp. 100, jumlah itu begitu berharga bagi kami.
***
Aku
bahagia dengan hidupku yang serba mepet. Walau nominal-nominal besar rupiah tak
muncul dalam rumah singgah kami. Walau berat badanku tak pernah naik, sekilo
pun. Walau kerap kali aku harus makan dengan lauk bawang goreng dan secentong
nasi, dalam suapan ibuku dengan di iringi tangis. Aku selalu ingat cara beliau
menghiburku, agar aku tak sedih menjalani hidup miskin. “ndak apa ya nak,
maem ikan bawang. Dari pada maem ikan jelantah.” Sambil meneteskan air mata
iba melihat diriku yang tak dipenuhi asupan gizi yang baik. Tak lama kemudian beliau
segera menghujani tubuhku yang mungil dengan belaiannya yang lembut.
Untuk
mengetahui nilai Rp. 100 tanyakan pada orang yang makan dengan jelantah dan
sesuap nasi. Jangan pernah congkak dengan uang berwarna merah dalam
genggamanmu, karena didalamnya terdapat air mata mereka yang mengharap kau
mengerti pilunya kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar