Kamis, 09 Oktober 2014

Arti Seratus Rupiah



Namaku Sa'adah. Aku putri tunggal bapak Samsuri Si Penjual Tempe keliling dari desa kecil dan terpencil. Hari-hari kami, berlalu dirumah kecil dengan debu-debu hitam di langit-langit rumah, bekas masak kedelai untuk tempe. Kalau musim hujan tiba, seluruh rumah akan dipenuhi tetesan-tetesan air berwarna hitam, sebab atap rumah bocor dimana-mana. Kami tidak ada biaya untuk memperbaiki atap itu. Untungnya lantai kami hanya terbuat dari ubin semen, jadi tetesan air hitam itu tak terlihat mengotori rumah kami. Rumah itu juga bukan rumah pribadi keluarga kecil kami, kasarnya kami hanya numpang di rumah mbahku, dari bapak.
Di keluarga kecil itu, aku hanya punya bapak dan ibu. Konon kandungan ibuku tidak subur, sehingga sulit untuk mendapat keturunan setelah melahirkan diriku.
Setiap sore, bapak repot menginjak-injak kedelai di dapur, biar kedelainya hancur katanya. Sedangkan ibu bertugas mencuci kedelai yang hancur itu, di kolam kecil dekat kamar mandi. Aku sering ikut menginjak-injak kedelai bersama bapak, ku pikir itu semacam permainan. Jadi dengan gelak tawa riang, aku berlari di tempat bersama bapak. Kemudian ikut berenang di kolam pencucian kedelai, setelah ibuku rampung menggarap tugasnya. Saat itu, Aku masih tak bisa memahami kalau bapak lari-lari diatas kedelai itu untuk menghidupi aku dan ibu. Aku masih tak mengerti kalau untuk mendapat uang itu butuh banyak memeras keringat. Yang aku tau, ketika aku hendak pergi sekolah, aku dapat uang saku Rp. 200 untuk jajan, sedangkan rata-rata temanku dapat jatah Rp. 500 untuk uang jajan mereka. Tapi, walau aku tau begitu, diriku yang masih dalam masa kanak-kanak tak pernah ingin minta tambahan uang sejumlah teman-temanku.
***
Kala itu, aku duduk di bangku TK nol kecil. Aku pergi sekolah dengan teman sebayaku di desa. Fadhilatul Amaliyah namanya. Sebut saja dila. Orang tuanya lebih susah dibanding bapak-ibuku. Hampir setiap pagi ia tidak mendapat uang jajan untuk pergi ke sekolah. Aku tak pernah sampai hati melihat ia gigit jari melihatku makan jajan sendirian. Akhirnya dengan uang Rp. 200 itu ku bagi berdua dengannya. Dengan begitu, tiap hari aku mendapat jatah uang jajan Rp. 100. Uang sejumlah Rp. 100, bagi anak TK pada jaman itu sudah cukup banyak. Aku bisa membeli mie godok, atau kerupuk kalau lapar, atau sebatang es lilin ketika aku dahaga. Aku tak bisa membeli makan dan minum secara bersama, karena uangku hanya Rp. 100. Tapi aku yang masih tak berinsting itu, merasa sangat bahagia melihat temanku ikut nyaman, bisa jajan bersama denganku.
***
Suatu hari aku yang masih lugu bercerita pada ibu. “bu, mbak dila lho biasae ndak dikasih uang sama bapaknya, aku kasian, ya uangku tak bagi sama mbak dila buat jajan.” Ucapku polos. Sejenak ibu melotot memandangku, “Ya Allah nak, uang itu mepet buat pean, ibu khawatir ndak cukup kok malah dibagi sama teman. Bapak belum bisa nambah uang jajan.” Ibu terlihat geram tapi iba juga melihat diriku yang sudah memiliki empati dimasa insting yang seharusnya belum tumbuh. Sejurus kemudian beliu meneruskan, Udah ndak usah dibagi-bagi, buat pean sendiri aja.” bentaknya khawatir. Aku hanya mengangguk, merasa bersalah karena dimarahi, tapi tak sampai juga hatiku membiarkan temanku melongo melihat diriku makan jajan sendirian. Akhirnya tetap ku jalani, uang jajan Rp. 100 itu setiap hari, tanpa sepengetahuan ibuku. Uang Rp. 100 begitu berarti bagi kami, orang pinggiran, orang miskin. Yah…Dari pada kami harus ngiler melihat kantin. Oleh karena itulah, walau nominalnya hanya Rp. 100, jumlah itu begitu berharga bagi kami.
***
Aku bahagia dengan hidupku yang serba mepet. Walau nominal-nominal besar rupiah tak muncul dalam rumah singgah kami. Walau berat badanku tak pernah naik, sekilo pun. Walau kerap kali aku harus makan dengan lauk bawang goreng dan secentong nasi, dalam suapan ibuku dengan di iringi tangis. Aku selalu ingat cara beliau menghiburku, agar aku tak sedih menjalani hidup miskin. “ndak apa ya nak, maem ikan bawang. Dari pada maem ikan jelantah.” Sambil meneteskan air mata iba melihat diriku yang tak dipenuhi asupan gizi yang baik. Tak lama kemudian beliau segera menghujani tubuhku yang mungil dengan belaiannya yang lembut.
Untuk mengetahui nilai Rp. 100 tanyakan pada orang yang makan dengan jelantah dan sesuap nasi. Jangan pernah congkak dengan uang berwarna merah dalam genggamanmu, karena didalamnya terdapat air mata mereka yang mengharap kau mengerti pilunya kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar